Monica Bellucci 2

Lampu-lampu sebuah pabrik kertas, karena tampak berkerlap-kerlip dan berkerumun, lebih mirip sebuah kota kecil yang tak pernah tertidur. Dan memang sudah hampir tengah malam ketika pintu ruang bacaku masih terbuka. Juga, meski cukup jauh, suara-suara mesin pabrik kertas itu seolah datang dari setapak pematang di belakang rumah. Tak terasa, aku sudah bertahun-tahun hidup di dunia yang tak lagi sama seperti ketika aku masih kanak-kanak. Memang, sesuatu acapkali telah berubah secara pelan-pelan ketika kita tak sedang memikirkannya, atau ketika kita, entah sengaja atau tidak sengaja, tak menyadarinya. Sementara, malam tetap lengang seperti biasanya, tak ada bising atau keriuhan selain suara-suara katak dan serangga. Namun, ketika aku masih kanak-kanak, tempat yang kini menjadi kawasan pabrik kertas itu adalah sejumlah rawa-rawa dan hutan belukar yang menjadi rumah bagi berbagai jenis ular dan binatang-binatang lainnya. Di tempat itu pula, dulu sering kulihat gerombolan-gerombolan bermacam-macam burung dan unggas yang singgah atau kembali terbang.

Aku baru terbangun dari tidur sebelum aku membuka pintu dan memandangi lampu-lampu pabrik kertas itu, dan karenanya aku sengaja menahan dingin angin selepas hujan. Sedangkan di antara atau di sekitar lintasan-lintasan pematang dan hamparan sawah-sawah, gelap terasa kental dengan kebisuannya yang menyerupai kiasan maut yang tengah terlelap karena cuaca lembab. Tetapi, ingatanku tentang masa silam, muncul ketika kupandangi barisan angka-angka pada kalender yang terpampang dan berdiri di atas meja bacaku, di antara beberapa buku, jurnal dan majalah yang terhampar dengan tenang, juga seperti kematian dan masa silam. Masa-masa yang bagiku seperti lorong-lorong keheningan yang panjang.

Ketika itu aku harus berjalan kaki dengan menempuh jarak beberapa kilometer untuk bisa sampai ke sekolah menengah pertama. Atau menumpang mobil-mobil truk pengangkut pasir dan batubata yang jarang ada, kecuali di hari-hari tertentu saja. Pernah juga aku harus berteduh di sepohon rindang di tengah perjalanan pulang dari sekolahku menuju rumah karena hujan lebat yang turun tiba-tiba. Itulah ketakutan pertamaku berada dalam kegelapan dan guyuran hujan di antara barisan pohon-pohon rindang sepanjang jalan dan sungai, yang karena keheningannya, lebih mirip terowongan panjang di waktu malam. Tetapi kini, sungai telah memiliki dinding-dinding batu dan pohon-pohon rindang sepanjang jalan telah digantikan barisan tiang-tiang beton, bersamaan dengan hadirnya pabrik kertas dengan dua cerobong asap raksasanya.

Tetapi, sebelum pabrik kertas itu dapat hadir dengan megah seperti sekarang ini, ada sebuah cerita tentang Nyi Randa, yang kemudian menjadi nama tempat yang kini telah digantikan pabrik kertas itu, yaitu Tegal Nyi Randa. Dan ketika pabrik kertas mulai dibangun di tegal itu, orang-orang bercerita tentang sepohon besar yang berdiri kokoh kembali keesokan harinya setelah dirobohkan. Pohon besar itulah yang oleh orang-orang dipercaya sebagai jelmaan Nyi Randa bertahun-tahun kemudian setelah ia melarikan diri ke rawa-rawa dan gugusan hutan belukar ketika seorang jawara membunuh suaminya tak lama setelah dilangsungkan resepsi pernikahan Nyi Randa dan suaminya yang terbunuh itu. Sebab, setelah kejadian itu, seperti cerita orang-orang di sekitar sungai Ciujung, Nyi Randa tak lagi ditemukan.

Mendapati pohon besar yang telah dirobohkan dengan menggunakan alat berat itu berdiri kokoh kembali keesokan harinya, pihak perusahaan pun merobohkan lagi pohon besar itu. Tetapi hasilnya tetap sama, pohon besar itu kembali berdiri seperti semula.

Kejadian itu pun segera menyebar luas di masyarakat, dan memunculkan dua pendapat: pihak perusahaan tetap ngotot untuk melenyapkan pohon tersebut, sementara sebagian masyarakat menginginkan agar pohon besar tetap ada di tempatnya seperti telah bertahun-tahun ada. Butuh waktu berhari-hari bagi pihak perusahaan untuk mewujudkan keinginan mereka sebelum akhirnya mereka berhasil membayar para dukun dan beberapa orang untuk melenyapkan pohon besar tersebut dengan bayaran yang cukup besar bagi orang-orang yang tak memiliki pekerjaan resmi.

Namun ceritanya tak hanya sampai di situ saja. Beberapa hari setelah pohon besar itu berhasil dilenyapkan, pihak perusahaan dikagetkan dengan banyaknya kehadiran ular-ular yang datang tiba-tiba entah dari mana ke setiap sudut dan tempat di kawasan pabrik kertas yang sedang dibangun itu, hingga beberapa pekerja pun meninggal karena serangan ular-ular tersebut. Sementara, di waktu malam, para pekerja seolah selalu mendengar suara seorang perempuan tengah bersenandung dan beberapa pekerja terjatuh dari konstruksi bangunan karena efek teror nyanyian gaib tersebut. Dan seperti pada kejadian-kejadian sebelumnya, orang-orang pun mempercayai bahwa perempuan yang selalu bersenandung di waktu malam itu adalah Nyi Randa yang tengah merana dan merasakan kesepian karena telah terusir untuk kedua kalinya. Aku jadi teringat kembali tentang kisah Nyi Randa itu ketika kupandangi lampu-lampu pabrik kertas, yang dulunya adalah rawa-rawa dan habitat para unggas, burung-burung, dan binatang-binatang Tuhan lainnya. Sejumlah burung-burung dan para unggas, yang ketika terbang melintasi cakrawala pagi atau senja, membuatku membayangkan diri ingin seperti mereka yang dapat pergi dan terbang kapan saja.

Sulaiman Djaya

Advertisements