Mall of Serang Banten

Ketika kita mendengar nama Carrefour, serentak yang hadir dalam benak dan bayangan kita adalah sebuah tempat yang menyediakan apa saja yang kita butuhkan, bahkan yang tidak kita butuhkan, di mana ia menjanjikan kenyamanan dan rekreasi pada saat bersamaan. Di Carrefour kita tak cuma membeli atau berbelanja, di sana kita juga bisa “mencuci mata” alias berjalan-jalan sembari melihat-lihat apa saja, dari mulai poster-poster reklame dan selebriti yang menggiurkan, hingga aneka jajanan yang tersedia dari sudut ke sudut lainnya. Belum lagi kata itu seringkali diidentikkan dengan ciri “kekotaan” dan “kemewahan sosial” ketika ia hadir dan berada.

Meskipun demikian, persoalannya tak sekadar apa yang telah saya sebutkan, Carrefour pada akhirnya akan berdampak pada gaya hidup dan perilaku sosial masyarakat konsumennya, yang bila kita melihatnya dengan kerangka analitik dan teoritik marxist, setiap aktivitas ekonomi (infrastruktur) akan turut menentukan pola dan perilaku sosial dan budaya masyarakatnya (suprastruktur). Artinya kita pun bisa memandang dan memahami kehadiran Carrefour akan menciptakan jadwal aktivitas rutin baru untuk selalu membeli bagi yang memiliki kocek tebal, yang mirip ritual wajib keagamaan. Sementara mereka yang pas-pasan dan papa mungkin hanya bisa gigit jari sembari meratapi nasibnya.

Begitulah, di era yang disebut sebagai era “masyarakat konsumtif”, sebagaimana para penulis dan sosiolog mutakhir menjulukinya semisal Jean Baudrillard dan George Ritzer, kita hidup di mana iklan begitu berkuasa dan menjadi firman-firman baru yang imperatifnya begitu halus dan merayu, menggoda dan menggiurkan, yang anehnya kita tak merasa diperintah oleh iklan-iklan tersebut. Iklan-iklan itulah yang berfungsi sebagai “mesin pemompa hasrat” masyarakat konsumtif agar selalu membeli dan mengkonsumsi bila kita meminjam istilahnya Gilez Deleuze dalam bukunya yang berjudul Anti-Oedipus itu. Sejumlah mesim pemompa hasrat yang setiap hari bahkan setiap saat menciptakan dan merekayasa kebutuhan, hingga setiap orang membeli bukan karena adanya kebutuhan pada benda-benda yang mereka beli, tetapi seringkali hanya sekedar mengikuti “trend” dan “gaya hidup” yang telah diciptakan dan direkayasa oleh sekian banyak reklame dan iklan yang bisa kita jumpai di mana saja, di sudut-sudut jalan, di tivi-tivi, di radio, di media-media massa cetak dan lain sebagainya.

Menurut para analis dan sosiolog yang telah saya sebutkan itu, kapitalisme telah menciptakan dan mendefinisikan aspek sosial dan aspek kognitif-nya sendiri dengan diskursus dan pencitraan yang cepat dan massif, yang seringkali lebih efektif dan lebih diterima ketimbang ajaran-ajaran dan doktrin-doktrin agama untuk konteks saat ini. Bahkan agama pun tak luput dari praktek-praktek “komodifikasi”. Tengok saja dakwah-dakwah instant di tivi-tivi atau transaksi doa-doa dan pesan-pesan religius via Short Message Service alias SMS.

Dengan kata lain dapatlah dipahami bahwa kehadiran Carrefour atau pun pusat-pusat perbelanjaan akan berdampak pada perubahan sosial dan kognitif masyarakat yang ada di sekelilingnya dan yang menjadi para pembeli alias konsumennya. Sebuah dampak yang bila meminjam istilahnya Jean Baudrillard disebut sebagai terbentuknya masyarakat konsumer atawa consumer society yang lebih massif dan cepat dari sebelumnya seperti yang dipaparkannya dalam bukunya yang berjudul Consumer Society itu. Di mana iklan dan pasar kapitalisme global mendapatkan kecepatan dan efisiensinya ketika berhadapan dengan masyarakat yang pasif dan mudah menerima apa saja yang diujarkan oleh sekian reklame dan iklan. Sebuah kondisi dan situasi masyarakat yang dalam bahasanya Habermas disebut sebagai masyarakat yang tidak memiliki daya kritis kognitif. Masyarakat yang akan cenderung mudah terhasut dan terdefinisi oleh kekuatan dan imperatif yang datang dari luar diri mereka. Demikianlah, masyarakat konsumer memiliki motto filosofisnya tersendiri: “Aku membeli, maka aku ada”. (Sulaiman Djaya)

Advertisements