Tags

, , , , , , , , ,

The Keeper

Kisah pun berlanjut, sebelum memang akhirnya harus dihentikan, seperti ketika kau membaca lembar-lembar buku fiksi dan dongeng kesukaanmu. Dan meskipun kisah dan cerita ini hanya dongeng rekaan semata alias hanya hasil angan-angan pikiran dan imajinasi benak jiwa, tidak menutup kemungkinan bagian-bagian tertentu dari riwayat yang diceritakannya memiliki kemiripan dengan kehidupan nyata, atau kau pernah membacanya dari dongeng yang lain dengan versi yang berbeda, tapi punya kepedihan dan kegembiraan yang tak jauh berbeda.

Baiklah kita mulai saja. Kali ini kau perlu mengetahui secara singkat Negeri Telaga Kahana, sebelum kisahnya berlanjut ke episode berikutnya, yang acapkali menyimpang dari perencanaan sebelumnya…….

Negeri Telaga Kahana, di mana Siswi Karina dan Misyaila menginap dan makan bersama di rumah Zipora itu, adalah negeri yang damai dan dihuni oleh penduduk yang hatinya dipenuhi cinta dan kasih-sayang kepada segenap yang hidup dan mencintai alam serta lingkungan mereka. Meskipun demikian, negeri itu pun tak luput dari invasi mereka yang hidupnya didasarkan pada nafsu kekuasaan dan hasrat untuk menguasai dan menaklukkan mereka yang lemah dan tak memiliki senjata.

Hari itu, seperti yang telah diniatkan, Misyaila mengarahkan tongkat ajaibnya pada suatu tempat, dan seketika kereta kuda yang sebelumnya dinaikinya bersama Siswi Karina muncul di hadapan mereka –secepat keinginan yang ada di hati mereka akan kehadirannya. Kali ini mereka akan kembali bertualang ke sebuah negeri, yang tentu saja, tidak pernah diketahui atau dikunjungi Siswi Karina sebelumnya, kecuali oleh Misyaila.

Kereta kuda itu melesat begitu cepat setelah mereka berada di dalamnya. Suatu keajaiban lainnya adalah bahwa delapan kuda putih yang masing-masing memiliki sepasang tanduk kristal di kepala mereka itu seakan begitu saja telah mengerti tujuan mereka melalui semacam telepati dengan Misyaila. Semacam ilmu laduni yang dimiliki oleh mereka yang memiliki kedekatan dengan Tuhan yang pengasih dan penyayang kepada mereka yang juga memiliki sifat welas-asih dan kasih-sayang.

Mereka melewati gunung-gunung, rawa-rawa, lembah-lembah, dan hutan-hutan aneh yang ditumbuhi pohon-pohon raksasa. Meskipun demikian, kereta kuda itu seperti terbang dan agak mengambang melewati hutan-hutan, mengambang di rawa-rawa, atau sesekali seperti berlari dengan begitu cepat di antara lembah-lembah dan kelokan-kelokan pegunungan.

Ternyata negeri yang hendak mereka tuju dan hendak mereka selidiki itu begitu jauh –sebuah negeri yang diberi nama oleh para penghuninya, yaitu kaum yang menyukai kekuasaan dan perang, dengan nama Negeri Perserikatan Bangsa Amarik.

Negeri itu begitu mempesona, di mana tempat-tempat tinggal para penghuninya menjulang tinggi. Di negeri itu juga terdapat kawasan-kawasan khusus megah yang hanya boleh ditinggali para prajurit, sementara di kawasan-kawasan khusus lainnya terdapat semacam pabrik-pabrik dan gedung-gedung yang senantiasa menciptakan senjata-senjata super canggih yang tak dapat dibuat oleh bangsa-bangsa lain, kecuali oleh bangsa pesaing mereka, yaitu Bangsa Rumantium.

Hasrat berkuasa dan menguasai negeri-negeri lain membuat para penduduk atau penghuni negeri itu begitu ulet mengembangkan tekhnologi persenjataan dan melakukan riset-riset dan inovasi-inovasi persenjataan. Negeri itu dipimpin oleh seorang yang gila perang dan memiliki hasrat berkuasa yang sangat besar, yang bernama Jarjus Bushan, seorang pemimpin yang anehnya sangat idiot –barangkali tak jauh berbeda dengan badut amatiran.

Dan yang membuat Misyaila kaget adalah negeri itu ternyata dibentengi oleh semacam kubah cermin maha-raksasa yang senantiasa menampakkan kilatan-kilatan cahaya, mirip gelombang-gelombang kilatan listrik, hingga Misyaila hanya bisa melihat sebagian kecil Negeri Bangsa Amarik yang menakjubkan dan super canggih itu lewat kejernihan kubah pelindungnya tersebut.

Dari ketinggian pegunungan di mana mereka berhenti itu, Misyaila pun tahu bahwa negeri itu dilindungi oleh benteng yang sangat tebal dan tinggi, dan mereka dapat melihat sebuah menara besar yang sangat tinggi terletak di negeri tersebut. Jika negeri itu dilindungi kubah raksasa, dari manakah para penduduknya bisa keluar ketika mereka melakukan invasi ke negeri-negeri lain? Demikian kira-kira yang jadi pertanyaan Misyaila di batin-nya. Dan tentu saja, rasa heran dan ketakjuban serupa juga dirasakan oleh Siswi Karina, meski mereka tak saling mengutarakannya, dan hanya memendam keheranan mereka di hati mereka masing-masing.

Demi menyelidiki dan meneliti negeri tersebut, dan tentu saja dengan sangat hati-hati, agar tidak ketahuan para spion alias para intelijen atawa para teliksandi negeri tersebut, Misyaila dan Siswi Karina memutuskan untuk menuruni gunung di mana kereta kuda mereka ditinggalkan –dan tentu saja, menghilang begitu saja bila tak dibutuhkan, dan akan hadir bila dibutuhkan –akan hadir begitu saja bila Misyaila menginginkan dan menghendaki kedatangannya.

Setelah mengetahui Negeri Amarik yang terlindungi dengan tekhnologi super canggih tersebut dari balik bukit sebuah gunung, Misyaila dan Siswi Karina memutuskan untuk kembali ke Negeri Telaga Kahana, sementara kala itu waktu sudah tiba di ujung senja, yang berarti kegelapan akan mengambil-alih waktu dan kesunyian dengan kesunyian yang lain lagi.

Betapa indah cahaya senja saat itu, sementara aneka keindahan pohon dan yang ada si sekitarnya turut pula menyusun lanskap-lanskap keindahan yang lain. Dan seperti biasa, kereta super cepat mereka pun kembali hadir begitu saja ketika mereka hendak menempuh perjalanan, kali ini perjalanan kembali ke Negeri Telaga Kahana.

Segera saja, setelah mereka telah berada di dalam kereta super cepat mereka tersebut, kereta yang ditarik kuda-kuda putih bertanduk indah (yang mirip para Unicorn) itu melesat bak kecepatan cahaya, menempuh perjalanan pulang ke Negeri Telaga Kahana dari Negeri Amarik yang jaraknya memang sangat jauh –yang membutuhkan waktu berbulan-bulan bila harus ditempuh dengan berjalan kaki.

Sesampainya di Negeri Telaga Kahana, mereka pun kembali menuju rumah keluarga Zipora, dan Zipora pun dengan ikhlas mempersilakan mereka masuk, seperti sebelumnya. Mereka pun kembali makan dan menginap di rumah tersebut, juga seperti yang mereka lakukan sebelumnya.

“Bolehkah saya tahu apa yang telah kalian lakukan?” ujar Zipora membuka perbincangan setelah makan malam itu. “Kami telah mengetahui tempat keberadaan sebuah bangsa yang orang-orangnya dulu pernah menghancurkan negeri kamu ini.” Jawab Misyaila. “Negeri itu sungguh di luar dugaan kami dan memiliki perlindungan yang sangat kuat. Sepertinya, jika kalian ingin melindungi negeri kalian ini, kalian harus juga membangun pertahanan dan perlindungan yang kuat dan harus memiliki orang-orang yang terlatih untuk berperang dalam keadaan yang akan terjadi kapan saja. Kalian harus mempersiapkan diri untuk sesuatu yang bisa saja terjadi di masa depan.”

Mendengar apa yang dikatakan Misyaila tersebut, Zipora tampak sedikit agak sungkan dan sedikit merenung. Ingin rasanya ia tidak membenarkan apa yang dikatakan Misyaila tersebut, namun pada sisi yang lain, kebenaran apa yang dikatakan oleh Misyaila itu tak bisa ditolak sebagai sebuah fakta tak terbantahkan bila nasib Negeri Telaga Kahana tidak ingin terulang, nasib yang membuat suami Zipora gugur dalam perjuangan perlawanan yang gagah berani menghadapi para agressor dari Negeri Amarik dengan senjata-senjata super canggih mereka.

Kala itu, Negeri Telaga Kahana nyaris musnah jika saja tak ada bantuan, semacam mukjizat, ketika penduduk negeri tersebut kedatangan sebuah pasukan burung-burung yang tangkas melemparkan batu-batu panas yang menimpa para agressor dari Negeri Amarik yang menyerang dengan ganas negeri Zipora yang dikunjungi Misyaila dan Siswi Karina itu.

Saat itulah, Misyaila adalah salah satu pemimpin pasukan burung-burung yang membantu para penduduk Negeri Telaga Kahana yang ketika itu menghadapi kekuatan luar biasa yang nyaris saja memusnahkan mereka semua.

“Aku sendiri yang akan melatih anakmu, Ilias, menjadi seorang prajurit dan panglima perang!” Lanjut Misyaila kepada Zipora. “Watak dan kecerdasan anakmu itu cukup memberitahuku bahwa ia yang kelak akan menggantikan ayahnya sebagai pemimpin yang kuat. Sementara itu dua adik-adik Ilias, dua anak perempuanmu, Hagar dan Sophia, akan kami didik sebagai perempuan-perempuan yang memiliki pengetahuan-pengetahuan dan kecerdasan-kecerdasan yang kami miliki.”

Saat Misyaila berbicara kepada Zipora tersebut, ketiga anak Zipora tersebut: Ilias, Hagar, dan Sophia, hadir dan mendengarkan apa yang dikatakan Misyaila. Jika Zipora menyetujui usulan dan keinginan Misyaila itu, maka Ilias, Hagar, dan Sophia akan dibawa ke Negeri Farisa, negeri yang dikenal karena kecerdasan para pemimpinnya dan karena kemajuan ilmu pengetahuan mereka yang setara dengan ilmu pengetahuan orang-orang di Negeri Amarik dan memiliki kercerdasan sebagaimana kecerdasan Bangsa Rumantium.

Hak cipta ©Sulaiman Djaya (2015-2016)

Advertisements