Banten Girang (Bagian Ketiga)

Tags

, , , , , , , , , , , , , , , , ,

Sajak Prosa Sulaiman Djaya

Dengan hanya bertemankan selampu damar, Nhay Mas Dandan begitu khusuk membaca lembar-lembar gulungan yang ia pegang dengan kedua tangannya itu: “Ini adalah sebuah cerita yang pernah dikisahkan guruku. Di sebuah negeri yang bernama Salakanagari atau Negeri Perak, hiduplah seorang perempuan belia yang meski tak teramat cantik, namun berparas manis dan lembut.

Orang-orang di negeri tersebut memanggilnya Nhay Larasati. Beberapa tahun kemudian, sebuah kapal dari negeri Cankala nun jauh tiba dan mendarat di negeri itu, setelah mereka menempuh pelayaran selama beberapa hari, dan meski mulanya mereka tak meniatkan untuk sengaja mendatangi Salakanagari, mereka mendaratkan kaki mereka dengan perasaan gembira.

Salah-seorang dari mereka kemudian jatuh cinta kepada Nhay Larasati. Setelah itu mereka mulai membangun lingkungan tempat-tempat ibadah dan sebuah ibukota yang dikhususkan oleh orang-orang yang menjadi pejabat pemerintahan. Para pendatang itu, yang segera dapat berbaur dan menyatu dengan para penduduk awal di negeri itu, bekerja sebagai para petani dan pengrajin.”

Itulah salah-satu paragraf yang dibaca Nhay Mas Dandan dengan hanya bertemankan selampu damar itu.

“Namun bertahun-tahun kemudian, sebuah bencana maha dahsyat menimpa negeri itu. Gunung-gunung yang ada di negeri itu meletus dan memuntahkan lahar-lahar membara mereka secara bersamaan, hingga bumi retak dan akhirnya terpecah dengan dahsyatnya, hingga menimbulkan gelombang air yang begitu tinggi dari laut di sekitarnya. Peristiwa itu terjadi di jaman yang menurut guruku adalah jaman Kala Brawa.”

Nhay Mas Dandan semakin bertambah khusuk ketika ia terus membaca baris-baris cerita yang dibacanya itu.

“Banyak orang-orang yang tak dapat menghindar dari bencana tersebut, sementara yang berhasil menyelamatkan diri mendirikan sebuah kerajaan dan negeri bertahun-tahun setelahnya, yang mereka namakan dengan nama Tarumanagari. Karena bencana maha dahsyat itulah negeri Salakanagari yang menurut guruku, Mpu Ranabaksa itu, tenggelam dan menjelma selat dan lautan yang kini memisahkan Swarnabhumi dan Yawadwipa.

Namun anehnya, begitulah guruku bercerita, bertahun-tahun kemudian gunung-gunung yang sebelumnya meletus dan memuntahkan lahar mereka secara bersamaan itu bermunculan dari balik lautan. Beberapa orang pun mulai memberanikan diri untuk menghuni gunung-gunung yang keluar dari laut itu, dan mereka menamakan salah-satunya dengan nama Agnynusa.”

Sikap khusuk Nhay Mas Dandan saat membaca cerita yang ditulis oleh kekasihnya, yang tak lain Aria Wanajaya itu, tak lain karena cerita tersebut telah membangkitkan sesuatu yang ada dalam dirinya yang sebelumnya hanya bisa ia bayangkan sendiri. Alasan lainnya adalah karena cerita itu, seperti yang dikisahkan oleh Aria Wanajaya kekasihnya itu, terjadi sebelum orang-orang di negeri mereka datang ke sebuah negeri yang mereka tempati dengan bekerja sebagai para pengrajin keramik, tembikar dan perhiasan tersebut.

Ia pun, yang mungkin karena seakan-akan tengah mendengar langsung cerita kekasihnya itu, sesekali tersenyum, dan sesekali menahannya demi memindahkan rasa bahagia di hatinya saat ia membaca kisah tersebut dengan seksama. Tak dirasanya bahwa ketika itu malam mulai terasa dingin, dan beberapa kelompok angin yang berhembus telah berhasil berebut masuk di kamarnya saat ia tengah dalam kesendirian tersebut.

“Mulanya, Nhay Larasati dirundung rasa ragu ketika salah seorang lelaki dari negeri Cankala yang jauh itu melamar dirinya. Demi menghilangkan rasa ragu dan gundahnya itu, ia pun memberanikan diri berbicara kepada ayahnya, sebuah tindakan yang tak pernah ia lakukan sebelumnya, karena memang wataknya yang pemalu dan patuh kepada orang tua.”

Rupa-rupanya, gulungan yang tengah dipegang kedua tangan Nhay Mas Dandan itu berjumlah tujuh belas lembar, hingga hampir saja membuat Nhay Mas Dandan menunda untuk membacanya, meski ia selalu urung untuk melakukan hal tersebut, sebab Nhay Larasati yang diceritakan Aria Wanajaya itu seakan-akan adalah dirinya.

Tentu saja hal itu bukanlah sesuatu yang sepenuhnya keliru, sebab Aria Wanajaya sendiri menginginkan kisah yang diceritakannya itu memang mengenai seorang perempuan yang ingin ia pinang sebagai istrinya setelah ia meminta pendapat langsung dari Prabu Sri Jayabupati.

Demikianlah, ketika Aria Wanajaya dan Ki Kanta telah tiba di ibukota Banten Girang, Prabu Sri Jayabupati mengutus Ki Purba untuk mewakili lamaran Aria Wanajaya, yang tak butuh lama, ketika keesokan harinya Nhay Mas Dandan dan Aria Wanajaya dinikahkan di sebuah pura yang terletak di tengah-tengah lingkungan istana ibukota Banten Girang.

Sejak saat itulah mereka menempati salah-satu pondokan yang ada di dalam lingkungan istana. Dan tak butuh menunggu waktu lama, di malam setelah mereka melangsungkan pernikahan itu, mereka bak sepasang kekasih yang tak sanggup membendung gejolak cinta mereka, hingga akhirnya merasa lelah dan terlelap hingga fajar.

Tetapi, seperti yang kelak akan terjadi dan akan menimpa mereka, Nhay Mas Dandan dan Aria Wanajaya akan menjalani hari-hari yang mengharuskan kekuatan tekad dan kesabaran angan-angan mereka ketika ribuan pasukan dari dua kerajaan di seberang lautan datang untuk menyerang dan meluluhlantakkan ibukota Banten Girang yang dilindungi benteng dan parit-parit yang dalam tersebut.

Namun, sebelum huru-hara yang melanda ibukota Banten Girang terjadi, Prabasena dan Sudamala telah memulai kembali perjalanan mereka dari Gilinggaya dengan membawa serta Santanaya, yang akan ditanyai oleh Prabu Sri Jayabupati tentang ciri-ciri sekelompok orang yang telah membunuh dan menggantung Mpu Ranabaksa yang malang dan bersahaja tersebut.

Kali ini, dengan tidak merasa khawatir seperti saat mereka diserang oleh sepasukan prajurit mata-mata yang terjadi sebelumnya, mereka menempuh rute dan jalan yang sama dengan mengendarai kuda yang langsung diberikan oleh Ki Artasena sendiri setelah penghulu Gilinggaya itu membaca langsung gulungan yang dititipkan Prabu Sri Jayabupati kepada Sudamala dan Prabasena.

Tak hanya itu, dalam perjalanan tersebut Sudamala dan Prabasena pun membawa serta tujuh kuda tanpa penunggang beserta mereka, yang mereka bawa dengan cara mengikatkan sejumlah tali yang terhubung dengan kuda-kuda yang dikendarai oleh Sudamala, Prabasena, dan Santanaya.

Butuh waktu satu setengah hari bagi mereka untuk sampai di ibukota Banten Girang dengan mengendarai dan membawa serta kuda-kuda tersebut, sebab mereka tak dapat menunggangi kuda-kuda mereka dengan berlari di saat mereka harus membawa serta tujuh kuda lainnya yang tak berpenumpang tersebut.

Dan pada sebuah hari ketika matahari siang baru saja tergelincir dari angka jam satu siang untuk waktu saat ini, mereka semua telah berkumpul di balairung ibukota Banten Girang, di lingkungan istana yang dilindungi benteng dan parit-parit yang kelak akan disulap menjadi parit-parit api tersebut.

Hak cipta (c)Sulaiman Djaya (2011)

Banten Girang (Bagian Kedua)

Tags

, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Banten Sebelum Islam

“Kala itu negeri Banten Girang adalah sebuah negeri gunung-gunung purba yang berada di antara Swarnadwipa (Jambudwipa) dan Jawadwipa, tempat hidupnya para resi dan orang-orang sakti”. Inilah kisah kelanjutan negeri itu…..

Setelah meminta pendapat Nhay Mas Dandan, istri dan kekasih tercintanya itu, Aria Wanajaya akhirnya memantapkan niatnya untuk pergi mengunjungi Reksi Budawaka di Watu Lawang, sementara yang akan mengatakan kepergiannya itu kepada Prabu Sri Jayabupati adalah Nhay Mas Dandan sendiri.

Pagi itu, di pondokan mereka, cuaca cukup cerah meski udara masih terasa dingin, yang diiringi dengan kicauan para burung di sekitar tempat tinggal mereka dan dari sejumlah pohonan yang tak jauh dari pondokan mereka. Tentu saja, maksud kepergian Aria Wanajaya ke Watu Lawang tersebut demi menceritakan perihal apa yang sedang mengancam ibukota Banten Girang, dan agar Reksi Budawaka ikut menyiapkan sejumlah pemuda untuk dijadikan para prajurit demi menghadapi serangan dan gempuran yang datang dari kerajaan yang memiliki lebih banyak pasukan dan kekuatan militer yang rupanya tergiur dengan kemajuan dan kemakmuran Banten Girang yang telah dihuni orang-orang dari negeri Keling dan Yunan itu, selain para penduduk awal negeri tersebut.

Sebagai keluarga para pengrajin dan pedagang yang terhormat, keluarga Nhay Mas Dandan adalah keluarga yang memiliki kekuatan ekonomi dan politik yang terbukti sangat penting bagi kekuatan Banten Girang. Melalui seorang duta-dagang dari dinasti Song di Cina Selatan, ayah Nhay Mas Dandan, Aki Gwan Sing, telah mengirimkan pesan dan menitipkan gulungan untuk diserahkan kepada penguasa dan dinasti di negeri yang jauh dari Banten Girang itu.

Salah-satu isi pesan dalam gulungan itu antara lain meminta untuk dikirimkan kebutuhan senjata dan beberapa perlengkapan perang lainnya yang sebagai gantinya akan ditukar dengan lada dan hasil tani lainnya yang dihasilkan oleh para petani dan pekebun di Banten Girang.

Suasana di pondokan dan tempat tinggal Nhay Mas Dandan dan Aria Wanajaya pun terasa syahdu ketika dengan kelembutan yang dimiliki Aria Wanajaya, ksatria dan perwira yang anggun itu mengecup kening dan kedua mata istrinya sebelum akhirnya berangkat menunggangi salah-satu kuda yang telah didatangkan oleh Sudamala dan Prabasena dari Gilinggaya sehari sebelumnya.

Suasana seperti itu pastilah tercipta setelah di waktu malamnya mereka memadu kasih dan asmara dengan gembira dan bergairah laiknya sepasang suami-istri yang belum lama menyatu dalam kehidupan rumah tangga.

Sesaat setelah kejadian romantis itu, Nhay Mas Dandan pun segera merapihkan diri untuk mengunjungi kedua orang tuanya di pedukuhan Kutaraja, tempat hidupnya para pengrajin dan orang-orang keturunan dari negeri Yunan dan Keling yang jauh.

Saat itu, Aria Wanajaya telah beberapa puluh kilometer mengomandoi kuda kesayangannya, yang ia beri nama Aria Sentanu, dengan bersemangat menyusuri setapak jalan menuju Watu Lawang di Gunung Karang.

Sedangkan hal yang berbeda dilakukan oleh Ranubaya, Surajaya, Sudamala, Prabasena, dan Santanaya, ketika mereka membagi diri mereka ke dalam dua kelompok sesuai dengan perintah Prabu Sri Jayabupati untuk menyelusuri hutan-hutan di Gilinggaya dan Laut Lor untuk mencari dan memerangi para pasukan dan prajurit mata-mata yang telah dikirim oleh kerajaan dari seberang lautan Jawadwipa alias prajurit-prajurit sebuah kerajaan yang datang dari Negeri Nusa Mandala atau Swarnabhumi yang telah dipimpin raja keturunan India, yang dengan demikian bila para prajurit mata-mata itu berhasil mereka tangkap, maka mereka tidak dapat memberi informasi tentang Banten Girang yang mereka dapatkan kepada kerajaan yang telah mengutus mereka.

Seperti saat pertarungan sebelumnya, Sudamala dan Prabasena tak pernah alpa untuk membawa jarum-jarum beracun yang ketika mereka lemparkan dengan tiupana tenaga dalam mereka dan yang akan melesat dengan sangat cepat melebih kecepatan anak panah dari para prajurit yang beberapa hari sebelumnya telah mencegat dan mengeroyok mereka.

Kemampuan mereka tersebut mereka dapatkan berkat latihan dan disiplin dari dua orang ksatria yang datang dari negeri Yunan dan Keling yang menetap di Gilinggaya atas permintaan langsung dari Mpu Ranabaksa dan Ki Artasena.

Tetapi, di pedukuhan Kutaraja, di mana Nhay Mas Dandan telah sampai di rumah kedua orang tuanya, ia segera memeluk ayah dan ibunya sesaat setelah ia sampai di rumah kedua orang tuanya itu.

“Kau bahagia, Nhay Mas sayang!?” Demikian ibunya, Nhay Ranamanti, menyapa putri kesayangannya itu.

“Aku sangat bahagia, ibu. Suamiku orang yang santun dan tahu apa yang harus dilakukan kepada istrinya. Ia juga tak segan-segan bertanya kepadaku bila aku tampak murung dan gelisah karena apa yang harus ia lakukan untuk beberapa hari ini. Seringkali aku merasa khawatir kebahagiaan kami akan ada yang merenggutnya.”

Begitulah tutur Nhay Mas Dandan kepada ibunya tercinta itu. “Dan ibu,” lanjut Nhay Mas Dandan yang berhati riang dan berparas kuning lembut itu, “aku harus melakukan sesuatu yang telah diminta suamiku. Aku harus menemui Prabu Sri Jayabupati untuk menyampaikan amanat dan pesan yang dititipkan suamiku sebelum berangkat bersamaan dengan terbangunnya fajar tadi.”

Ketika anaknya hendak melangkahkan kedua kakinya itu, Aki Gwan Sing pun menyelipkan sesuatu untuk diserahkan kepada Prabu Sri Jayabupati. Sementara, Nhay Ranamanti memeluk anak kesayangannya itu dengan perasaan sedikit enggan, terkesima dan mungkin dirundung rasa syahdu yang hanya mampu ia pendam di dalam hati ketika anak semata wayangnya yang masih belia ternyata harus segera memiliki rumahtangga dan kehidupan sendiri.

Dan, sementara Nhay Mas Dandan telah melakukan tugas yang dimintanya sebelum berangkat itu, Aria Wanajaya telah sampai di Watu Lawang, di sebuah pondokan gurunya. Ia segera menceritakan maksud kedatangannya tersebut kepada Reksi Budawaka. “Jika memang itu semua yang diminta dari ibukota Banten Girang, maka aku tak punya pilihan lain selain melaksanakannya dengan segera, jika memang sebuah ancaman yang gawat tak lama lagi akan datang,” kata Reksi Budawaka kepada Aria Wanajaya.

“Sementara itu, Ki, aku tak bisa tinggal lama-lama di sini, sebab aku masih belum terbiasa meninggalkan istriku.” “Tidak apa-apa, Ngger!” Balas Reksi Budawaka menanggapi sopan-santun murid kesayangannya itu. “Lakukan saja apa yang menurutmu pantas untuk dilakukan. Meski setelah Mpu Ranabaksa mangkat, tugas itu tentulah sedikit terasa berat tanpa keberadaannya.”

Hak cipta (c)Sulaiman Djaya (2011)

Anekdot Mencium Kuburan

Tags

, , , , , , , ,

Muslimah Syi'ah Iran 2

Oleh Dr. Muhammad Tijani As-Samawi (‘ulama & penulis Tunisia)

Salah seorang ulama Syi’ah bercerita, “Pada suatu hari aku berada di Madinah, di Masjid Nabawi. Aku melihat di sebelahku ada peziarah yang datang dari Iran mencium dinding dan pagar makam Rasulullah saw. Lalu tiba-tiba imam jama’ah setempat, yang mana ia adalah seorang pemuka Wahabi, mendatanginya membentak dengan berteriak: “Mengapa kamu mencium dinding yang tidak bisa berbuat apa-apa?! Kamu telah syirik!”

Aku pun merasa kesal dengan sikapnya lalu kudatangi dan kukatakan, “Kami mencium dinding masjid ini karena kecintaan kami kepada Rasulullah saw. Tak ada bedanya seperti seorang ayah yang mencium anaknya karena rasa cinta. Tidak ada kesyirikan dalam hal seperti ini.” Ia berkata, “Tidak! Perbuatan ini tetaplah syirik.”

Aku berkata, “Bukankah Anda pernah membaca ayat yang berbunyi: “Ketika pembawa berita gembira datang kepada Ya’qub dan memberikan baju anaknya kepadanya, Ya’qub mengusap baju itu ke mukanya lalu ia dapat melihat kembali” (QS Yusuf: 96). Pertanyaanku adalah, baju itu hanya sekedar kain. Lalu bagaimana bisa menyembuhkan mata nabi Ya’qub as? Apa bukan karena baju itu milik anak kecintaannya sehingga baju tersebut begitu istimewa bagi beliau?”

Imam jama’ah Wahabi itu terlihat kebingungan dan tidak bisa menjawab. Demikian aku berusaha memberitahu ia tentang bagaimana kami berkeyakinan. Penjelasannya yang lebih detil begini: Bukannya nabi Ya’qub as pernah mencium bau anaknya dari jarak yang sangat jauh karena begitu cintanya ia pada nabi Yusuf as? “Sungguh aku mencium wangi Yusuf” (QS Yusuf: 94)

Oleh karena itu kami begitu mempercayai keistimewaan wali-wali Allah ini. Perbuatan kami ini bukanlah syirik. Bahkan kami berani bertaruh inilah Tauhid yang sebenarnya!” Lalu kujelaskan lebih detil, “Saat menziarahi nabi, kami marasa diri kami tidak pantas untuk menghadap Allah swt secara langsung, oleh karena itu kami ingin menjadikan nabi sebagai perantara untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Inilah Tawasul. Tak jauh beda dengan seorang anak yang nakal yang tidak berani menemui ayahnya lalu meminta tolong orang lain yang dikenal baik ayahnya untuk datang bersamanya meminta maaf dari sang ayah.

Dalam Al-Qur’an hal ini pun dijelaskan dengan sangat jelas. Saat anak-anak nabi Ya’qub as merasa berdosa, mereka berkata kepada ayahnya: “Hai ayah kami, mintakanlah ampun Allah untuk kami karena kami sungguh orang-orang yang salah” (QS Yusuf: 97). Dari ayat itu dapat kita fahami bahwa bertwasul dan menjadikan hamba-hamba terdekat Allah sebagai perantara adalah hal yang wajar dan boleh-boleh saja. Sedangkan mereka, orang-orang Wahabi menyebut Tawasul sebagai perbuatan syirik, bertentangan dengan Tauhid, dan lain sebagainya. Allah swt juga pernah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, carilah wasilah (perantara) kepada-Nya” (QS Al Maidah: 35)

Bukannya ayat itu mengajak kita untuk ber-Tawasul? Wasilah atau perantara yang dimaksud oleh ayat di atas tidak hanya terbatas pada menjalankan kewajiban dan meninggalkan yang haram saja, namun juga menjalankan hal-hal mustahab, yang salah satunya adalah Tawasul itu sendiri. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Mansur Dawaniqi (Khalifah kedua Dinasti Abbasiah) bertanya kepada Malik bin Anas (pemimpin Madzhab Maliki), “Di makam Rasulullah saw kita harus berdoa menghadap Kiblat atau menghadap makam beliau?”

Ia menjawab, “Mengapa kamu harus memalingkan wajahmu dari nabi? Ia adalah perantara bagimu dan juga bagi ayahmu, nabi Adam as, di hari kiamat nanti. Menghadaplah kepada nabi dan mintalah ia untuk menjadi pemberi syafaat kepadamu. [1] Allah swt berfirman: “Dan ketika orang-orang yang menzalimi dirinya datang kepada nabi untuk dimintakan ampunan, lalu nabi memohon ampunan Allah untuk mereka, niscaya mereka mendapati bahwa Allah maha maha penerima taubat dan pengasih” (QS. An Nisa’: 64)

Dalam riwayat-riwayat Syi’ah maupun Sunni disebutkan bahwa nabi Adam as saat bersimpuh di pintu Ka’bah berdoa kepada Allah dan menjadikan nama Rasulullah Saw sebagai perantara taubatnya. Ia berdoa, “Ya Allah, demi Muhammad ampunilah aku.”[2] Kembali ke permasalahan. Sederhana saja, bukti bahwa mencium kubur hamba-hamba dekat Allah swt adalah beberapa riwayat ini:

Seseorang pernah mendatangi nabi dan bertanya, “Wahai nabi, aku telah bersumpah untuk mencium pintu surga…Lalu (jika terlanjur begini), apa yang harus kulakukan?” Beliau menjawab, “Kalau begitu ciumlah kaki ibu dan kening ayahmu.” “Bagaimana jika ayah dan ibuku telah mati?”, tanya lelaki itu. Nabi menjawab, “Maka ciumlah kuburan mereka.”[3] Riwayat yang lain…Saat nabi Ibrahim as datang dari Syam untuk menemui anaknya, nabi Ismail as di Makkah, anaknya tidak ada di rumah. Lalu saat nabi Ismail as datang, istrinya menceritakan bahwa tadi ayahnya datang mencarinya. Segera setelah itu ia mencari jejak kaki ayahnya lalu sebagai penghormatan ia mencium jejak kaki tersebut.

Riwayat yang lain juga, diriwayatkan bahwa Sufyan Tsauri (seorang sufi Sunni) mendatangi Imam Ja’far Shadiq as dan berkata, “Mengapa orang-orang suka menciumi kain Ka’bah padahal kain itu tidak akan berbuat apa-apa dan tak berguna?” Imam Ja’far as Shadiq as menjawabnya dengan berkata, “Hal itu bagai kejadian seseorang yang bersalah terhadap sesamanya lalu berusaha menarik bajunya dengan berlutut dan menciumnya agar mau menerima permintaan maafnya.”[4]

CATATAN:
[1] Wafa’ul Wafa’, jilid 2, halaman 1376; Ad Durr As Sunniyah, Dzaini Dahlan, halaman 10.
[2] Ad Durr Al Mantsur, jilid 1, halaman 59; Mustadrak Al Hakim, jilid 2, halaman 615; Majma’ul Bayan, jilid 1, halaman 89.
[3] Al A’lam, Quthbuddin Hanafi, halaman 24.
[4] Seratus Satu Dialog, Muhammad Muhammadi Isytihardi, halaman 175.

Muslimah Syi'ah Irak

Qasim Sulaimani ‘The Shadow Commander’

Tags

, , ,

Qassem Soleimani

Oleh Abu Syirin Al-Hasan

Amerika marah besar. Kenapa tidak? Semua rencana politik di Irak, Suriah, Mesir dan Libanon gatot alias gagal total. Pergerakan dan kebijakan politik di Timur Tengah selalu menemui jalan buntu. Penguasaan minyak persediaan puluhan tahun yang akan datang dari negara kaya minyak seperti Irak tinggal isapan jempol belaka. Hanya mengandalkan Saudi Arabia saja tidak cukup, untuk itu sebuah keharusan mencari Saudi Arabia-Saudi Arabia baru untuk memasok persediaan minyak ke gudang penyimpanan gedung putih.

Sang Polisi dunia itu kini hanya bengong dan tidak bisa berbuat apa-apa. Semua perencanaan politik Timur Tengah hanya digagalkan oleh seorang jendral dari negeri Persia yang dikenal dengan Hajj Qasim Sulaimani. Pergerakannya yang seperti bayangan membuat musuh tidak mampu mendeteksi dengan cepat dan tepat. Secanggih apapun peralatan Amerika dan Zionis ketika ingin menemukan Sang Bayangan selalu menemui jalan buntu.

Begitu rapih dan sempurnanya perencanaan dan strategi yang beliau pimpin, sehingga Hajj Qasim dijuluki dengan “Jendral Bayangan” atau “The Shadow Commander”.

SIAPAKAH SI BAYANGAN QASIM SULAIMANI?
Qasim lahir di Bulan Esfand tahun 1336 tahun Iran di sebuah kampung bernama Rabur yang berada di kota Kerman Tenggara Iran. Kehidupan kecilnya di kota Rabur berlangsung hingga beliau menyelesaikan Sekolah Dasar. Setelah itu ia meninggalkan kampung halamannya di umur 12 tahun dan pergi ke kota Kerman.

Di kota Kerman, Qasim kecil membanting tulang sebagai kuli bangunan. Seperti yang kita ketahui, ketika itu zaman di mana kerajaan Reza Syah masih berkuasa. Kehidupan Iran ketika itu sangat sulit dan masyarakat di bawah tekanan yang nyata.

Setelah Revolusi Islam Iran, Qasim aktif di Departemen Perairan kota Kerman. Ketika perang antara Irak-Iran berkecamuk, beliau ditunjuk sebagai pemimpin sebuah tim berinisial ‘Tentara 41 Tsarullah’. Setelah perang delapan tahun perang Irak-Iran selesai, Qasim dan tim Lasykar 41 Tsarullah kembali ke kota Kerman.

Bukan rahasia lagi bahwa selama beliau memimpin tim, daerah-daerah seperti Sistan, Kerman dan daerah sekitar lainnya, aman dari segala bentuk kejahatan.

Setelah perang Irak-Iran, Qasim Sulaimani ditunjuk oleh Pemimpin Tertinggi Militer Sayyid Ali Khamenei untuk memerangi pemasokan obat-obat terlarang di perbatasan Afghanistan dan perbatasan Iran lainnya. Setelah beberapa tahun memerangi pemasokan narkoba di perbatasan, beliau dipanggil ke Tehran untuk dilantik menjadi Komandan Angkatan Militer Quds Iran.

Ketika Qasim Menjadi Komandan Militer Quds, Amerika dan sekutunya merasakan ancaman yang nyata. Karena ketika itu Qasim Sulaimani adalah salah satu orang yang menurunkan Presiden Khatami dari tampuk kepresidenan.

KEGIATAN POLITIK SI BAYANGAN
Sang Jendaral Bayangan pertama kali memasuki Irak pada tahun 2005. Ketika itu perpolitikan Irak sangatlah buruk, karena ketika itu rezim Saddam Husein baru saja dihancurkan dan semua kalangan sangat bernafsu untuk duduk di singgasana pemerintahan Irak untuk menikmati ‘Emas Hitam’ Irak yang berlimpah ruah.

Amerika yang memiliki nafsu besar untuk menjadikan Irak sebagai The New Saudi, membela dan mendukung mati-matian calon Perdana Menteri Irak, Eyad Alawi yang pro Barat. Petinggi Washington ketika itu sudah berpesta di Pentagon merayakan kemenangan mereka. Segala kekayaan Irak akan jatuh ke tangan mereka.

Namun rencana tidak semua mulus, Qasim Sulaimani sendirian datang ke Irak mengubah semua rencana politik Amerika di Irak. Qasim datang untuk melindungi Muslim Syi’ah Irak dari kezaliman dan pembantaian. Sedemikian rupa beliau bekerja untuk Irak sehingga seluruh rakyat Irak ikut partisipasi dalam mensukseskan pemilu di Irak. Tidak hanya itu, Eyad alawi yang sebelumnya diplot sebagai boneka Amerika di Irak tidak terpilih sebagai Perdana Menteri.

Pada tahun 2008, terjadi perang yang berkecamuk antara kelompok Syi’ah dan tentara Amerika di Irak. Namun, tiba-tiba perang itu berhenti karena sepucuk surat dari Qasim Sulaimani kepada Jendral Amerika David Petrous. Isi Surat Qasim Sulaimani kepada Jendral Amerika David Howell Petraeus:

“Jendral Petraeus! Kamu harus mengetahui siapa saya. Saya adalah Qasim Sulaimani, seseorang yang mengatur dan menjalankan politik di Iran, Irak, Libanon, Gaza dan Afghanistan. Jangan pernah berfikir mengetahui siapa saya! Dan ketahuilah segala kebijakan politik yang Amerika lakukan di negara-negara kekuasaan saya, selama saya hidup, rencana kalian tidak akan pernah berhasil.”

Setelah pengiriman surat tersebut, gemparlah Pentagon. Kini mereka tahu siapa dalang di balik kegagalan mereka selama ini yang tidak lain adalah Qasim Sulaimani. Setelah kejadian itu Qasim Sulaimani dikenal dengan sebutan ‘The Nemesis’ (Si Musuh Bebuyutan).

GUARDIAN menulis: Jendral Petraeus selalu mengeluhkan kegagalan mereka di Libanon dan Gaza karena ulah Nemesis kepada pusat. Namun, apa daya, gerak-gerik Si Bayangan tak terbaca dan selalu sulit dilacak dan ditebak.

ADIL ABDULMAHDI WAKIL PRESIDEN IRAK ketika itu berkata: Kebijakan politik Amerika di Irak menemui jalan buntu. Mereka senang dalam satu sisi, karena tugas mereka di Irak sudah selesai. Namun marah dan dongkol karena tidak bisa meringkus Qasim Sulaimani dan menangkapnya.

JACK KANE Komandan Angkatan Darat Amerika ketika rapat besar di Pentagon mengatakan: “Yang terhormat para senat Amerika, seperti yang telah diketahui kegagalan kita di Timur Tengah karena seorang Jenderal Perang Iran yang ikut campur dalam masalah politik kita, The Shadow Commander Nemesis Qasim Sulaimani. Menurut pendapat saya, kenapa kita tidak membunuhnya atau sedikitnya kita teror dia. Saya tidak menasehatkan perang dengan Iran, namun sedikitnya kenapa kita tidak bunuh dan teror saja orang satu ini?”

SURAT QASIM SULAIMANI DI PENTAGON
Pentagon adalah gedung Departemen Pertahanan AS di Arlington, Virginia dekat Washington D.C. yang berbentuk segi lima. Pentagon adalah kantor utama angkatan bersenjata Amerika Serikat.

Pentagon oleh banyak pihak dilihat sebagai salah satu gedung yang dirancang secara efisien. Sistem gang di dalam gedung ini panjangnya ada 28 kilometer dan luasnya ada 11 hektare. Namun setiap tempat di dalam gedung ini bisa dicapai dalam waktu tujuh menit dengan jalan kaki. Keamanan Pentagon tidak diragukan lagi adalah keamanan terbaik di dunia. Untuk saat ini negara manapun di dunia, baik itu musuh Amerika atau bukan, tidak pernah terpikirkan untuk bermain-main dengan Pentagon.

Menteri Pertahanan AS Leon Edward Panetta, setelah melakukan rapat politik seperti biasanya dia kembali ke ruangannya. Ketika duduk di kursinya, tatapannya jatuh kepada sepucuk surat yang ada di atas meja kerjanya.

Panetta dengan gemetar dan keringat dingin melihat sampul surat yang berlogo Republik Islam Iran. Surat itu diambilnya, dibuka dan dibacanya:

“Kepada Menteri pertahanan Panetta, tidakkah Anda berfikir bahwa saya sedekat ini dengan anda? Tentunya saya selama ini selalu bersama Anda dan anak buah Anda. Jangan pernah berfikir menyerang Iran karena sedikit saja anda masuk perbatasan kami, maka tempat pertama yang saya akan hancurkan adalah ruangan Anda.” Tertanda Pemimpin Angkatan Militer Quds Iran, Qasim Sulaimani.

Salah satu senat Amerika pernah berkata: “Saya heran dengan Si Bayangan, dia selalu ada di mana-mana. Seakan-akan semua tempat adalah kepunyaannya.”

Majalah WIRED Amerika pernah menulis 14 orang yang sangat berbahaya di dunia. Dalam salah satu tulisannya mengatakan: “Kita ketahui bahwa Mursi Presiden Mesir dan Bashar Assad Presiden Syiria adalah orang berbahaya dan merupakan ancaman dunia. Namun kita harus tahu orang paling berbahaya bagi dunia adalah seorang Jenderal Iran yang dikenal dengan ‘Nemesis Qasim Sulaimani’. Tidak ada ancaman melebihi dia, karena dia memiliki kekuasaan langsung dari pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei.”

Begitu juga dengan Majalah Politik Amerika dengan sampul foto Qasim Sulaimani menegaskan bahwa Jendral Qasim adalah orang paling berbahaya yang harus segera disingkirkan.

Bahkan CIA dan FBI memberikan sayembara, barang siapa bisa menangkap dan membunuh Qasim Sulaimani, akan mendapatkan hadiah yang berharga. Konon, menurut seorang sumber, harga kepala Qasim Sulaimani melebihi harga Pulau Bali.

QASIM SULAIMANI DALAM PANDANGAN SAYYID ALI KHAMENEI
Pemimpin Tertinggi Iran Sayyid Ali Khamenei empat kali berkata Qasim Sulaimani sebagai Syahid e Zende (Seorang yang masih bernafas bergelar Syahid). Artinya, baik beliau meninggal atau hidup tiada bedanya karena beliau seorang syahid yang hidup.

Rahbar berkata: “Allah swt menginginkan Qasim Sulaimani untuk tetap hidup, sehingga dengan berkah wujudnya bisa berkhidmat untuk negara, agama dan mazhabnya.”

Setelah itu Rahbar menghadapkan dirinya kepada Qasim Sulaiman dan berkata:

“Engkau adalah Sulaimanku. Di dalam pandanganku engkau telah syahid, engkau telah sampai ke derajat syahid dan ketika engkau pergi ke medan perang, berkali-kali engkau telah Syahid.”

Di mata Sayyid Ali Khamenei, Qasim Sulaimani adalah anugerah terbesar yang dimiliki Islam. Bahkan ulama-ulama besar selalu mengatakan Qasim Sulaimani adalah Musthafa Chamran zaman ini.

Semua rakyat Iran mengeluk-elukan Qasim. Semua pemuda Iran bermimpi ingin menjadi Qasim. Bagi Pemuda Iran untuk mendapatkan sosok Rambo, Captain America, Agen FBI atau The Expendable-nya Barat semua ada di dalam diri Qasim Sulaimani.

Setiap pemuda Iran merindukan perang dengan Amerika. Yel-yel mereka, “Kami adalah Qasim Sulaimani, kami adalah Qasim Sulaimani. Datanglah wahai Amerika! Kami telah siap berperang, kami telah siap berperang.”